Nasihat Analis Konflik untuk Obama
Oleh Diane Perlman ?
Tulisan ini adalah surat terbuka asosiasi analis konflik, Conflict Analysis Professionals for Enduring Security, kepada Presiden AS Barack Obama. Intinya, Obama diminta tidak mengulang kesalahan yang sama dari pendahulunya terkait konflik Palestina-Israel.??Kami adalah para analis konflik dari berbagai disiplin ilmu - psikolog dan ilmuwan sosial lain- yang membaktikan diri untuk mengkaji dan mempraktikkan pencegahan kekerasan, penurunan ketegangan, transformasi konflik, dan rekonsiliasi. Seperti halnya Presiden Obama, kami sangat peduli dengan kawan-kawan, rekan-rekan kerja, sanak kerabat kami, dan semua warga Israel dan Gaza. Kami khawatir, konsekuensi dari lingkaran kekerasan itu dan ketidakmampuan kita untuk menghentikannya bisa berakibat fatal. Intervensi ahli dengan demikian diperlukan untuk memulihkan para korban dan menghentikan lingkaran kekerasan tersebut.?Anda belum lama ini mengatakan, ''jika putri-putri saya tinggal di sebuah rumah yang sedang diancam oleh serangan-serangan roket, 'apa pun akan saya lakukan' untuk mengakhiri keadaan tersebut.''?Dalam situasi konflik, kita sulit membayangkan bahwa dalam ungkapan ''apa pun akan saya lakukan'' ada tindakan memenuhi kebutuhan dasar manusia -makanan, air, kehangatan, dan perlindungan, meredakan rasa takut, dan menyediakan keamanan, seperti yang diakui dalam Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia. ?Bagaimana jika ungkapan ''apa pun akan saya lakukan'' itu menuntut kita untuk mendukung tujuan-tujuan politik yang sah, memenuhi tuntutan-tuntutan akan keadilan, dan memberikan hak orang lain akan hidup dengan harga diri, hak menentukan diri sendiri, kesejahteraan, dan kemerdekaan? Orang pasti lebih memilih untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka dengan cara yang sah. Tapi, mereka bisa berpaling kepada kekerasan dalam keadaan terdesak.?Anak-anak kita akan jauh lebih aman jika kita bisa mengakui keabsahan narasi sejarah pihak lain dan bangkit melampaui kedua narasi yang berbeda ini untuk menemukan perspektif sebab dan akibat yang sesungguhnya dan dinamika kekuasaan yang asimetris.? ***Kita memiliki dua bangsa yang penuh trauma, dicekam rasa takut dan kemarahan, yang aksi-aksinya malah membangkitan trauma pihak lain tak henti-hentinya. Dalam proses yang ganas itu, setiap pihak mencari pendukung yang percaya bahwa mereka perlu menghancurkan pihak lain.?Meski demikian, banyak pula orang dari kedua belah pihak yang melakukan upaya untuk bisa hidup berdampingan dengan damai.?Karena trauma yang parah, rasa takut, iri, perasaan terhina, dan kemarahan yang diderita kedua belah pihak begitu besar, intervensi untuk memulihkan mereka secara masif perlu dilakukan. Tolong, pimpin kami untuk memulihkan para korban dan memberikan kompensasi atas kehilangan yang mereka alami. Tolong, pimpin kami dengan menggunakan prinsip-prinsip keadilan bukan untuk dengan pendekatan yang penuh dengan hukuman.?Bila melakukan"apa pun akan saya lakukan" adalah menciptakan kondisi bagi kedua belah pihak untuk hidup berdampingan dengan damai dan adil, dengan memenuhi hasrat kedua bangsa untuk menentukan nasib sendiri, maka itu berarti mengurangi hasrat untuk membalas dendam dan menciptakan harapan bagi masa depan. Kemudian Anda, bangsa Israel dan Palestina akan dapat tidur dengan aman.?Tetapi, jika dengan ungkapan "apa pun akan saya lakukan" Anda bermaksud untuk mengatakan bahwa Anda akan membunuh mereka yang mengancam Anda dan menghancurkan masyarakat mereka, maka kita harus bersiap diri menghadapi kekerasan dan penderitaan berkepanjangan. ?***Kami menyadari reaksi militer Israel yang berlebihan, yang didukung oleh Amerika Serikat, yang dipercaya sebagai aksi "pertahanan diri", memiliki dampak negatif. Kami meramalkan aksi militer, yang berniat untuk menghilangkan ancaman tersebut, malah menciptakan rasa takut, kemarahan, dan memperbanyak saksi-saksi kekerasan dan memperkuat para pelaku ekstrem. ?Kami sadar akan ada tekanan politik untuk mengambil sikap hitam putih sebagai ''pro'' atau ''ontra'' Israel atau Palestina. Cara berpikir menang-kalah tidak akan ada akhirnya. Satu-satunya cara untuk membuat situasi lebih aman ialah membuat musuh Anda lebih aman. Kita harus memikirkan kembali apa sesungguhnya yang kita maksud dengan mendukung Israel dan menjadi pendukung koeksistensi, serta membangun sebuah kebijakan yang ''memastikan keselamatan bersama'', dan yang mendukung kesejahteraan bersama.?Banyak konsep, yang tidak begitu dikenal di luar kalangan akademis, yang memberikan cara untuk menghentikan lingkaran kekerasan tersebut. Kita baru saja akan mulai memahami bagaimana terorisme bisa berakhir dan bagaimana kelompok-kelompok ekstremis berhenti menggunakan kekerasan dan menjadi produktif melalui peran serta mereka dalam proses-proses politik yang sah.?Kita juga baru mulai memahami apa yang menyebabkan radikalisasi dan mendorong orang untuk melakukannya. Ketika Hamas menang dalam pemilu yang adil, mereka siap membangun koalisi dengan Fatah. Tapi, itu terhenti ketika mereka dihukum dan diancam.Karena itu, kita perlu mendidik masyarakat tentang strategi-strategi yang efektif untuk mengurangi ketegangan dan untuk memberikan tafsiran yang seimbang tentang narasi sejarah yang berbeda.Orang harus dibuat yakin bahwa dengan menyalahkan orang lain, yang memang merupakan hal yang gampang dan otomatis, kita selalu harus menjadi pihak yang ''benar'' (dan begitu juga ''mereka''). Tetapi, kita tidak akan pernah merasa aman.??Diane Perlman, psikolog klinis, ahli psikologi politik, sekaligus wakil ketua pada program prakarsa Global Violence and Security untuk Psychologist for Social Responsibility serta wakil ketua pada program prakarsa the Study of Peace and, Conflict and Violence untuk the American Psychological Association. Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews) telah memperoleh hak cipta.