Selasa, 10 Februari 2009

Potret Kemiskinan Informasi Pengobatan

Rabu, 11 Februari 2009 ]
Ponari, Potret Kemiskinan Informasi Pengobatan


Ini tragis. Mau berobat ke Ponari, pelajar kelas 3 SD di Jombang, malah tewas. Jumlahnya empat orang. Meski hanya hitungan jari, jumlah empat tewas itu adalah peristiwa tragis.Mengapa? Karena sifat dan kondisi peristiwanya patut disesalkan semua orang yang waras. Mau berobat ke praktik "pengobatan" irasional -dalam contoh yang dilakukan Ponari tidak pula bisa dikatakan pengobatan tradisional atau alternatif karena tidak ada ramuan bahan-bahan tradisional apa pun- justru nyawa melayang.Ponari mungkin hanya salah satu dari sekian banyak praktik irasional yang menjanjikan penyembuhan terhadap semua penyakit. Sebab, di tempat lain dengan cara yang berbeda-beda sudah banyak praktik kurang lebih serupa. Juga diyakini banyak orang praktik dimaksud bisa menyembuhkan segala penyakit atau penderitaan lahir batin apa pun, mulai fisik, jiwa, sampai perbaikan nasib. Masalahnya ialah kian banyak praktik serupa Ponari makin telanjang pula penjelasan tentang kebelumberhasilan pemerintah memberikan layanan kesehatan modern bermutu yang terjangkau semua lapisan rakyat. Saat ini hampir tidak ada satu pun penyakit atau penderitaan fisik seseorang yang tidak bisa dijelaskan melalui nalar medis dan logika kedokteran. Hanya, begitu penjelasan itu terjelentrehkan, untuk mendapatkan layanan penyembuhan melalui praktik medis dan pengobatan modern, tidak semua orang mampu "membelinya."Ketidakterjangkauan atau ketidakmerataan pelayanan kesehatan modern lantas mendorong penderita yang tidak mampu mencari pengobatan "lain-lain." Dari yang alternatif, supernatural, tradisional, sampai kepada cara-cara "penyembuhan" (yang diyakini mujarab) seperti yang dilakukan Ponari.Tentu tidak adil jika penjelasan pada peristiwa tewasnya empat orang yang ingin mendapatkan "penyembuhan" ala Ponari karena faktor kegagalan pemerintah memberikan pelayanan kesehatan murah yang masal, merata, serta terjangkau semua orang. Komunitas kedokteran dan para insan kalangan terdidik di dunia kesehatan patut pula digugat. Mengapa? Karena mereka sampai sekarang kurang memiliki program masal tentang pendidikan kesehatan modern. Bahwa, misalnya, di era serbadigital elektronik ini hampir semua penyakit bisa dijelaskan melalui nalar dan logika medis. Bahwa untuk menyembuhkan penyakit haruslah ke dokter atau rumah sakit. Karena kebelumberhasilan kampanye pendidikan kesehatan modern itu di satu pihak dan di pihak lain jasa pengobatan modern belum terjangkau kalangan tidak mampu, lantas para penderita panyakit tertentu membuat kesimpulan tersendiri. Misalnya, mereka bilang, "Kata dokter tidak ada penyakitnya. Padahal, keluhan penderitaan fisik tidak sembuh-sembuh." Maka upaya memperoleh kesembuhan dilakukan dengan mencari informasi dari mulut ke mulut tentang praktik pengobatan seperti yang dilakukan Ponari. Masyarakat pencari kesembuhan penderitaan fisik seperti ini tidak sepenuhnya bisa disalahkan. Bukankah mereka harus berikhtiar untuk sembuh dan sehat kembali? Karena itum kelompok masyarakat terdidik kesehatan yang "waras"-lah yang secara moral perlu turut bertanggung jawab.